Minggu, 10 Januari 2010

Pilar Pendidikan

Pengentasan Kemiskinan Melalui
Pilar Pendidikan
Oleh : Kristanto, S.Pd

Dalam kehidupan suatu bangsa, pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting untuk menjamin perkembangan dan kelangsungan kehidupan suatu bangsa.
Sistem pendidikan nasional dilakukan secara semesta, menyeluruh dan terpadu; Semesta dalam arti terbuka bagi seluruh rakyat dan berlaku diseluruh wilayah Negara; menyeluruh dalam arti mencakup semua jalur, jenjang dan jenis pendidikan; dan terpadu dalam arti saling berkaitan antara pendidikan nasional dengan seluruh usaha pembangunan nasional. Sehingga Bangsa Indonesia mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya dan mengembangkan dirinya secara terus menerus dari generasi ke generasi berikutnya.
Sebenarnya respon gereja untuk menegakkan kerajaan Allah melalui pilar pendidikan sudah lama kita dengar, misalnya dengan adanya orang tua asuh yang memberikan bantuan biaya pendidikan bagi anak-anak yang orang tuanya kurang mampu, bahkan gereja mendirikan sekolah-sekolah kristen yang menerapkan biaya pendidikan subsidi silang. Usaha tersebut memang sudah bagus, akan tetapi apakah yang seperti itu sudah dapat mempengarui kehidupan bangsa dalam upaya pengentasan kemiskinan ?
Keterlibatan gereja dalam lingkungan dan komunitas memberikan ruang bagi jemaat untuk bergerak sesuai dengan calling yang Tuhan sudah tetapkan sehingga mampu memberikan pengaruh bagi kesejahteraan Kota. Dalam kontek ini Pilar Pendidikan semakin mendapat tempat, Pilar Pendidikan diyakini merupakan salah satu langkah strategis untuk menjawab berbagai tantangan gereja dalam upaya pengentasan kemiskinan di kota ini baik di masa sekarang maupun masa yang akan datang .
Dengan memperhatikan hal itu, maka diperlukan suatu strategi yang mampu memberdayakan serta terpadu sehingga pengelolaan pilar pendidikan ini tepat saran. Peran gereja dalam strategi demikian, ditekankan kepada pelayanan yang mampu memberdayakan serta terpadu agar proses pendidikan berjalan efektif dan efesien serta terkait dengan dunia usaha dan industri. Artinya, tidak hanya memberikan bantuan kepada yang tidak mampu dalam biaya pendidikan tetapi juga mengedepankan konsep pendidikan yang siap pakai bagi perekonomian suatu negara.
Untuk menjalankan peran besar tesebut, maka gereja harus dapat bergandeng tangan dengan dunia usaha dan industri yang dikelola oleh orang-orang yang takut akan Tuhan, sehingga anak asuh yang dibiayainya dapat bekeja di perusahaan tersebut atau mampu berwirausaha. Bahkan mungkin mengadakan lembaga pendidikan formal yang bertujuan meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan siap kerja serta dapat mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kompetensi keahlian yang dimilikinya, misalnya seperti Sekolah Menengah Kejuruan. Apalagi sekarang pemerintah telah memprogramkan 70% Sekolah Menengah Kejuruan dan 30% Sekolah Menengah Atas. Serta dalam penyusunan Kurikulum SMK melibatkan pihak terkait salah satunya dunia usaha atau industri, yang pada akhirnya diharapkan lulusannya mampu bekerja sesuai dengan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) atau standar kompetensi kerja lainnya yang dijadikan acuan dan berlaku di dunia kerja serta untuk melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi.

Tidak ada komentar: